KONSEKUENSI SYAHADAT BAGI SEORANG MUSLIM

Posted on 4 September 2011

0


Pengertian Syahadat
Syahadat berasal dari kata syahada – yasyhadu – syuhudan – syahidan, artinya menyaksikan. Menurut istilah, syahadat artinya penyaksian kesadaran manusia, bahwa di alam raya ini tidak ada ilah melainkan Allah swt (Abd. Marjie, 2003:125)
DR. Shalih (1998) membedakan antara definisi syahadat la ilaha illallah dan syahadat muhammadan Rasulullah. Menurutnya definisi syahadat la ilaha illallah ialah beritikad dan berikrar bahwasannya tidak ada yang berhak disembah dan menerima ibadah kecuali Allah swt, mentaati hal tersebut dan mengamalkannya. La ilaha menafikan hak penyembahan dari selain Allah, siapapun orangnya. Illallah adalah penetapan hak Allah semata untuk disembah. Sedangkan makna syahadat muhammadan Rasulullah yaitu meyakini secara lahir batin bahwa beliau adalah hamba Allah dan Rasul-Nya yang diutus kepada manusia secara keseluruhan, serta mengamalkan konsekuensinya; mentaati perintahnya, membenarkan ucapannya, menjauhi larangannya, dan tidak menyembah Allah kecuali dengan apa yang disyariatkannya.

Kandungan Kalimat La Ilaha Illallah

Kalimat la ilaha illallah mengandung beberapa makna yang berhubungan dengan kehidupan manusia (marjie, 2003), yaitu:

Tidak ada pencipta selain Allah
Tidak ada pemberi rezeki selain Allah
Tidak ada pemilik semesta raya dengan segala isinya, baik benda hidup dan mati termasuk manusia, jin bahkan para malaikat selain Allah.
Tidak ada yang menguasai makhluk-makhluk yang ada di dunia ini kecuali Allah.
Tidak ada yang mengatur hokum dan yang memutuskan suatu hokum selain Allah.
Tidak ada pelindung yang dapat melindungi selain Allah.
Tidak ada tujuan hidup kecuali untuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah dengan mengharap keridoan-Nya.

Konsekuensi Syahadatan

Dalam syahadat la ilaha illallah, menurut ulama tauhid mengandung al nafyu dan al isbat. Al nafyu artinya menolak segala bentuk tuhan selain Allah, sedangkan al isbat ialah menetapkan bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah.
Adapun dalam syahadat muhammadan Rasulullah mengandung ifrath dan tafrith. Ifrath adalah istilah yang muncul dari kata ‘abduhu (hambanya / manusia biasa yang berkewajiban untuk beribadah kepada Allah) yang mengisyaratkan agar manusia lain – termasuk umat islam- jangan sampai bersikap berlebih-lebihan atau bahkan sampai mengkultuskan Nabi yang nantinya mengarah kepada penyembahan terhadap sosok Nabi sebagai manusia. Sebagaimana firman-Nya: sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu (QS Al-Kahfi: 110)
Tafrith adalah istilah yang muncul dari kata Rasuluhu yang mengisyaratkan bahwa semua manusia tidak boleh meremehkan Nabi, karena beliau adalah manusia pilihan Allah yang mendapat tugas mulia sebagai pemberi kabar gembira dan sebagai pemberi peringatan. Salah satu contoh sikap meremehkan Nabi adalah bilamana kita melakukan ibadah yang tidak pernah dicontohkan sama sekali oleh Rasul, karena dengan demikian kita telah menumbuhkan sikap tidak percaya terhadap sosok Muhammad sebagai utusan Allah untuk membimbing seluruh manusia agar melakukan tata cara ibadah sesuai dengan kehendak yang memerintahkan untuk diibadahi (Allah).
Para ulama tauhid merinci beberapa syarat bagi syahadat la ilaha illallah, diantaranya harus ada mahabbah atau kecintaan kepada Allah di atas segala-galanya. Namun yang jadi pertanyaan adalah bagaimana caranya kita mencintai Allah yang ghaib dari pandangan mata? Kita mungkin akan langsung faham ketika ada stimulus untuk mencintai anak, istri atau kendaraan mewah yang baru dibeli, tapi kita akan bertanya-tanya ketika ada stimulus untuk mencintai Allah.
Oleh karena itu Allah memberikan tuntunan kepada seluruh manusia agar dapat mencintai Allah yang nantinya akan meraih cinta Allah di dalam kitab suci diamanatkan kepada manusia pilihan-Nya Rasulullah saw untuk disampaikan kepada seluruh manusia;
“Katakanlah, “jika kalian benar-benar cinta kepada Allah, maka ikutilah aku, niscaya kamu akan dicintai pula oleh Allah, dan Dia akan mengampuni segala dosa-dosa kamu, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Katakanlah, “Taatlah kepada Allah dan kepada Rasul, maka apabila kamu berpaling ke belakang, sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir.” (QS Ali Imran [3]: 31-32)
Mendahulukan sabdanya atas segala pendapat dan ucapan orang lain serta mengamalkan sunnahnya merupakan bagian yang tidak terpisah dari syahadat la ilaha illallah. Orang-orang yang lebih mengutamakan hukum atau perundang-undangan manusia di atas petunjuk Nabi, maka jelaslah dia telah keluar dari konsep syahadatain. Bebas berprilaku dan berekspresi walaupun bertentangan dengan sunnah Allah dan Rasul-Nya dengan dalih bahwa setiap manusia mempunyai hak azasi masing-masing, maka bila dia seorang muslim, keyakinan tersebut telah membatalkan syahadatnya.

Posted in: Uncategorized